Catatan dari gathering GBTHari Minggu itu kita berkumpul. Bulan Februari dua ribu sepuluh, tanggal tujuh, pukul tujuh. Kita setuju bertemu di sini, di Masjid Agung Ujung Berung, Bandung. Ini Bandung bagian timur, karenanya kita hadir di acara Gathering Gowes'er Bandung Timur. GBT, begitu kita menamai perkumpulan para pesepeda gunung ini. Sepeda gunung kebanyakannya, tak ada yang pakai sepeda lipat apalagi sepeda mini.
Pagi hari itu di masjid dibagikan sesuatu. Bukan, bukan membagikan zakat fitrah, apalagi daging kurban. Kita di sana menantikan kaos baru yang sudah dipesan sebelumnya. Salah satu dari kita, yang juga penggagas GBT, Kang Bayu Why, punya inisiatif bikin kaos klub bersepeda. Di dadanya ada identitas Gowes'er Bandung Timur.
Tapi pagi itu, yang datang bukan cuma dari Bandung Timur. Lihatlah di sana, ada Taryan Taryana dan Ustad Amri dari Bandung Utara. Juga saya yang telat karena mengayuh dari Cibeureum di daerah Barat. Tapi GBT bukan karena domisili. Bandung Timur lebih menunjukkan daerah di mana kelompok ini biasa bersepeda. Maka, di sana ada juga perkumpulan lain yang tidak mengenakan kaos GBT. Mereka adalah anak-anak Terjal, akronim dari Telusuri Jalur Liar. Mendengar namanya saja bikin orang ciut nyalinya. Apalagi, kata Bayu Why, mereka adalah para legenda.
Maka, pagi-pagi itu kita berdo'a bersama. Dipimpin Ustad Amri yang baru saja Shalat Dhuha. "Ini bagian dari spiritual cycling," katanya. Shubuh di Masjid Daaruttauhid, Dhuha di Masjid Ujung Berung, lalu kelak, Dhuhur dan Ashar di Mushola Batukuda.
Iya, Batukuda, itu tempat yang akan kita tuju. Sebelumnya, kita akan gowes dulu ke arah timur, menuju Jatinangor. Di pertengahannya, di Cinunuk, akan ada rombongan kecil bergabung. Dipimpin master Indra Anggara sang ketua GBT, di sana juga (mungkin) ada Aru. Kharistya Amaru, teman istri saya waktu di SMA, ini kali pertama kita bersepeda bersama.
Sebelum ke Batukuda kita akan ke Kiarapayung dulu. Di sana ada 'warban'nya daerah Bandung Timur. Banyak warung tempat kita bersantap atau untuk membungkus bekal. Karena, seperti kata Taryan, di Batukuda tak ada yang jual nasi. "Cuma ada mie rebus," lanjutnya. Makanya, kita membekal di sini saja. Lalu, kita membeli dua bungkus nasi merah yang dibungkus daun pisan, kita biasa menyebutnya timbel. Temannya, pepes ayam dan lalab sambal. Untuk satu porsi timbel dan pepes ayam itu, kita membayar 6 ribu saja. Ini murah, ketimbang mencarinya di Batukuda, apalagi jika harus balik lagi ke Kiarapayung, tempat berkemah para pramuka.
Lalu, kita meneruskan perjalanan panjang ini. Menyusuri jalan setapak yang basah karena musim penghujan. Maka di sana, kita melihat iring-iringan sepeda di jalur setapak yang licin dan sempit. Menyusuri punggungan bukit Manglayang. Di sana juga ada pinus-pinus yang getahnya membuat nyamuk betah. Lalu datanglah kita, menu spesial buat mereka. Bagi para nyamuk hutan, darah selalu lebih enak ketimbang getah.
Maka, kita pun terganggu dengan mereka. Meskipun sebenarnya, merekalah yang terganggu dengan kedatangan kita. Lalu, demi menghidari nyamuk itu, beberapa dari kita coba mengusirnya dengan asap. Sayang, yang dibakar adalah rokok, bukan obat nyamuk.
Di ladang yang agak lapang itu kita berkumpul lagi. Oh, indah sekali kebersamaan itu. Biarpun banyak sepeda tergeletak, tapi tawa di sana banyak tergelak. Di tempat ini kita berjajar bersaf, menunggu kedipan-kedipan lampu indikator kamera. Kita berfoto bersama seperti yang dilakukan di Jonas oleh anak-anak SMA. Menyenangkan sekali, biarpun hari makin siang dan matari kian terik saja.
Lalu, penunjuk jalan kita, master Indra menunjuk ke atas bukit. "Di sana Batukuda berada," katanya. Lalu, iringa-iringan sepeda yang didorong itu kembali mengular. Kali ini agak lambat, karena jumlah yang banyak dan nafas yang terbatas. Bukan cuma dengkul yang kita butuhkan, tapi siku untuk kita mendorong sepeda. Sementara matari, kita rasa tak mau kompromi.
Maka, di Batukuda itu kita sampai pukul dua belas lewat beberapa. Itu baru rombongan pertama, sementara sisanya masih sibuk antri mendorong, atau mengangkat sepeda saat menyeberangi sungai kecil. Kita merasa lelah sekali, meskipun beberapa anak Terjal tampak biasa-biasa saja. Setidaknya, ketika kita makan, mereka malah bermain ajrut-ajrutan.
Di Batukuda itu kita membuka bekal. Sebagian dari kita membeli mie rebus panas yang bikinnya pun kembali harus antri. Kita berkelompok di tenda-tenda, di warung-warung, di Mushala, atau di rumput beratapkan pinus di mana-mana. Kita mengobrol dan saling berkenalan. Menjalin silaturahmi, begitu kata Ustad Sepeda, Mas Amri.
Tapi langit mulai mendung. Kita mulai berpikir untuk pulang. Sebagian, memilih pulang cepat menempuh jalur Batukuda-Cileunyi. Sebagian lagi, melanjutkan perjalanan menuju arah Turunan Panjang Geuleuh. Teman-teman kita dari Terjal, tentu saja memilih jalur ini. Kabarnya, jalur inilah favorit mereka. Tapi kita tak sampai di Turunan panjang Geuleuh. Hari mulai hujan, dan rombongan pun akhirnya terbagi tiga. Satu yang pulang duluan dari Batukuda, satu lagi yang turun di Bukitnya, menuju kampung, dipimpin Indra Anggara, dan sisanya bersama teman-teman kita dari Terjal.
Kita pun pulang dengan pakaian kotor dan basah. Dengan sepeda yang ditempeli lumpur di mana-mana. Dengan rantai yang olinya habis dikikis air sungai dan hujan, hingga menimbulkan bunyi-bunyi yang tak elok kita dengar. Tapi, kita masih saja bersepeda. Entah Minggu depannya, entah bulan depannya, bahkan mungkin esok harinya.
Padahal bersepeda membuat kita lelah saat tiba di rumah. Mungkin membuat istri sedikit marah karena pakaian kotor yang disimpan begitu saja, sementara yang kita ingat cuma mencuci sepeda. Padahal bersepeda membuat badan terasa tak nyaman esok harinya, ketika pegal melanda di mana-mana. Padahal esok hari kita harus kembali bekerja, sementara inginnya melanjutkan tidur saja.
Tapi, bersepeda membuat kita bisa bersama, dan itu tak ternilai harganya.
Bandung, Suniaraja, 08022010.