Blog EntryKe Batukuda Kita BersepedaFeb 8, '10 2:44 AM
for everyone


Catatan dari gathering GBT

Hari Minggu itu kita berkumpul. Bulan Februari dua ribu sepuluh, tanggal tujuh, pukul tujuh. Kita setuju bertemu di sini, di Masjid Agung Ujung Berung, Bandung. Ini Bandung bagian timur, karenanya kita hadir di acara Gathering Gowes'er Bandung Timur. GBT, begitu kita menamai perkumpulan para pesepeda gunung ini. Sepeda gunung kebanyakannya, tak ada yang pakai sepeda lipat apalagi sepeda mini.

Pagi hari itu di masjid dibagikan sesuatu. Bukan, bukan membagikan zakat fitrah, apalagi daging kurban. Kita di sana menantikan kaos baru yang sudah dipesan sebelumnya. Salah satu dari kita, yang juga penggagas GBT, Kang Bayu Why, punya inisiatif bikin kaos klub bersepeda. Di dadanya ada identitas Gowes'er Bandung Timur.

Tapi pagi itu, yang datang bukan cuma dari Bandung Timur. Lihatlah di sana, ada Taryan Taryana dan Ustad Amri dari Bandung Utara. Juga saya yang telat karena mengayuh dari Cibeureum di daerah Barat. Tapi GBT bukan karena domisili. Bandung Timur lebih menunjukkan daerah di mana kelompok ini biasa bersepeda. Maka, di sana ada juga perkumpulan lain yang tidak mengenakan kaos GBT. Mereka adalah anak-anak Terjal, akronim dari Telusuri Jalur Liar. Mendengar namanya saja bikin orang ciut nyalinya. Apalagi, kata Bayu Why, mereka adalah para legenda.

Maka, pagi-pagi itu kita berdo'a bersama. Dipimpin Ustad Amri yang baru saja Shalat Dhuha. "Ini bagian dari spiritual cycling," katanya. Shubuh di Masjid Daaruttauhid, Dhuha di Masjid Ujung Berung, lalu kelak, Dhuhur dan Ashar di Mushola Batukuda.

Iya, Batukuda, itu tempat yang akan kita tuju. Sebelumnya, kita akan gowes dulu ke arah timur, menuju Jatinangor. Di pertengahannya, di Cinunuk, akan ada rombongan kecil bergabung. Dipimpin master Indra Anggara sang ketua GBT, di sana juga (mungkin) ada Aru. Kharistya Amaru, teman istri saya waktu di SMA, ini kali pertama kita bersepeda bersama.

Sebelum ke Batukuda kita akan ke Kiarapayung dulu. Di sana ada 'warban'nya daerah Bandung Timur. Banyak warung tempat kita bersantap atau untuk membungkus bekal. Karena, seperti kata Taryan, di Batukuda tak ada yang jual nasi. "Cuma ada mie rebus," lanjutnya. Makanya, kita membekal di sini saja. Lalu, kita membeli dua bungkus nasi merah yang dibungkus daun pisan, kita biasa menyebutnya timbel. Temannya, pepes ayam dan lalab sambal. Untuk satu porsi timbel dan pepes ayam itu, kita membayar 6 ribu saja. Ini murah, ketimbang mencarinya di Batukuda, apalagi jika harus balik lagi ke Kiarapayung, tempat berkemah para pramuka.

Lalu, kita meneruskan perjalanan panjang ini. Menyusuri jalan setapak yang basah karena musim penghujan. Maka di sana, kita melihat iring-iringan sepeda di jalur setapak yang licin dan sempit. Menyusuri punggungan bukit Manglayang. Di sana juga ada pinus-pinus yang getahnya membuat nyamuk betah. Lalu datanglah kita, menu spesial buat mereka. Bagi para nyamuk hutan, darah selalu lebih enak ketimbang getah.

Maka, kita pun terganggu dengan mereka. Meskipun sebenarnya, merekalah yang terganggu dengan kedatangan kita. Lalu, demi menghidari nyamuk itu, beberapa dari kita coba mengusirnya dengan asap. Sayang, yang dibakar adalah rokok, bukan obat nyamuk.


Di ladang yang agak lapang itu kita berkumpul lagi. Oh, indah sekali kebersamaan itu. Biarpun banyak sepeda tergeletak, tapi tawa di sana banyak tergelak. Di tempat ini kita berjajar bersaf, menunggu kedipan-kedipan lampu indikator kamera. Kita berfoto bersama seperti yang dilakukan di Jonas oleh anak-anak SMA. Menyenangkan sekali, biarpun hari makin siang dan matari kian terik saja.

Lalu, penunjuk jalan kita, master Indra menunjuk ke atas bukit. "Di sana Batukuda berada," katanya. Lalu, iringa-iringan sepeda yang didorong itu kembali mengular. Kali ini agak lambat, karena jumlah yang banyak dan nafas yang terbatas. Bukan cuma dengkul yang kita butuhkan, tapi siku untuk kita mendorong sepeda. Sementara matari, kita rasa tak mau kompromi.

Maka, di Batukuda itu kita sampai pukul dua belas lewat beberapa. Itu baru rombongan pertama, sementara sisanya masih sibuk antri mendorong, atau mengangkat sepeda saat menyeberangi sungai kecil. Kita merasa lelah sekali, meskipun beberapa anak Terjal tampak biasa-biasa saja. Setidaknya, ketika kita makan, mereka malah bermain ajrut-ajrutan.

Di Batukuda itu kita membuka bekal. Sebagian dari kita membeli mie rebus panas yang bikinnya pun kembali harus antri. Kita berkelompok di tenda-tenda, di warung-warung, di Mushala, atau di rumput beratapkan pinus di mana-mana. Kita mengobrol dan saling berkenalan. Menjalin silaturahmi, begitu kata Ustad Sepeda, Mas Amri.

Tapi langit mulai mendung. Kita mulai berpikir untuk pulang. Sebagian, memilih pulang cepat menempuh jalur Batukuda-Cileunyi. Sebagian lagi, melanjutkan perjalanan menuju arah Turunan Panjang Geuleuh. Teman-teman kita dari Terjal, tentu saja memilih jalur ini. Kabarnya, jalur inilah favorit mereka. Tapi kita tak sampai di Turunan panjang Geuleuh. Hari mulai hujan, dan rombongan pun akhirnya terbagi tiga. Satu yang pulang duluan dari Batukuda, satu lagi yang turun di Bukitnya, menuju kampung, dipimpin Indra Anggara, dan sisanya bersama teman-teman kita dari Terjal.

Kita pun pulang dengan pakaian kotor dan basah. Dengan sepeda yang ditempeli lumpur di mana-mana. Dengan rantai yang olinya habis dikikis air sungai dan hujan, hingga menimbulkan bunyi-bunyi yang tak elok kita dengar. Tapi, kita masih saja bersepeda. Entah Minggu depannya, entah bulan depannya, bahkan mungkin esok harinya.

Padahal bersepeda membuat kita lelah saat tiba di rumah. Mungkin membuat istri sedikit marah karena pakaian kotor yang disimpan begitu saja, sementara yang kita ingat cuma mencuci sepeda. Padahal bersepeda membuat badan terasa tak nyaman esok harinya, ketika pegal melanda di mana-mana. Padahal esok hari kita harus kembali bekerja, sementara inginnya melanjutkan tidur saja.

Tapi, bersepeda membuat kita bisa bersama, dan itu tak ternilai harganya.

Bandung, Suniaraja, 08022010.  

 

25 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bayuwahyudi wrote on Feb 8
Bersepeda ke gunung selalu saja membuat ketagihan. Hormon endorfin bekerja dengan baik setiap kali kita bersepeda, bikin kita jadi kecanduan gowes... Padahal kalau dipikir lagi, trip seperti yang kemarin itu kan nggak ada enak-enaknya...
taryan wrote on Feb 8
yang saya rasakan sih kalau trip2 jauh, makan sangat enak, tidur sangat nyenyak walaupun kata kang zaidan esoknya pegel2
nanjak wrote on Feb 8
saya kemarin malah cuma bekel air putih doang, jadinya sampai batu kuda laper berat. indomienya ngantri lagi.... :)
idetidansuk wrote on Feb 8
ada saat kerinduan mencapai klimaks nya, saat setiap wikend berburu dengan waktu.. "tekad & nekat" padahal sorenya saya mesti terbang keluar kota... alhasil saya ketinggalan travel hehehe..
abahsaidan wrote on Feb 8
Padahal kalau dipikir lagi, trip seperti yang kemarin itu kan nggak ada enak-enaknya...
ada enaknya, kang. Bawa pulang jersey baru hehehe
abahsaidan wrote on Feb 8, edited on Feb 8
hehehe saya bawa air 2.5 ltr sampe di batukuda langsung abis kang :)
abahsaidan wrote on Feb 8
taryan said
yang saya rasakan sih kalau trip2 jauh, makan sangat enak, tidur sangat nyenyak walaupun kata kang zaidan esoknya pegel2
bonus eta mah :)
abahsaidan wrote on Feb 8
ada saat kerinduan mencapai klimaks nya, saat setiap wikend berburu dengan waktu..
sakau sepedaan ya kang :)
penta wrote on Feb 8
ada saat kerinduan mencapai klimaks nya, saat setiap wikend berburu dengan waktu.. "tekad & nekat" padahal sorenya saya mesti terbang keluar kota... alhasil saya ketinggalan travel hehehe..
Tapi teu "kagok edan" kan kang? Digowes terus sampai jkt ? xixixi
amaru wrote on Feb 8
Baru pertama kali ini gowes bareng >4 org, ampe 40 orang (bener itu?), biasanya bekel pisang ampe satu sisir, sekarang malah ga makan pisang satu pun.

Naek gunung emang enak, selain udaranya yg segar, semilir angin, keteduhan pohon ketika menghindari teriknya matahari, ga peduli ama tengkuk yang terbakar matahari. Mo jalan atau naek sepeda kayanya sama aja, cape n senang jadi satu.
idetidansuk wrote on Feb 8
sakau sepedaan ya kang :)
betul kang sakaw pedah, sakaw jersey juga hehe
idetidansuk wrote on Feb 8
penta said
Tapi teu "kagok edan" kan kang? Digowes terus sampai jkt ? xixixi
kang penta kumaha tawaran saya tea ttg 'b2w gak kira-kira' pake seli ?
saya tawarin lah spesial mumpung nganggur di garasi nih..
sapedahgunung wrote on Feb 8
"Maka, pagi-pagi itu kita berdo'a bersama. Dipimpin Ustad Amri yang baru saja Shalat Dhuha."

Ini yang menyejukkan hati, gowes sambil diniatkan ibadah.. jadi dapat manfaat ganda: barokah dari Allah dan tubuh yg sehat bugar. Ada baiknya mungkin nanti acaranya diteruskan temu masyarakat/ baksos GBT dengan masyarakat di pegunungan/terpencil.
abahsaidan wrote on Feb 8
Ini yang menyejukkan hati, gowes sambil diniatkan ibadah.. jadi dapat manfaat ganda: barokah dari Allah dan tubuh yg sehat bugar. Ada baiknya mungkin nanti acaranya diteruskan temu masyarakat/ baksos GBT dengan masyarakat di pegunungan/terpencil.
setuju kang, ide menarik nih, ada nilai pahala plusnya
penta wrote on Feb 8
kang penta kumaha tawaran saya tea ttg 'b2w gak kira-kira' pake seli ?
saya tawarin lah spesial mumpung nganggur di garasi nih..
Kalau selinya buat saya nanti saya cobain kang... he he he
aleut wrote on Feb 9
maaf kang, ini jalurnya mana aja?
abahsaidan wrote on Feb 9
kiarapayung-cadasgantung-batukuda
swargaloka wrote on Feb 9
kapan-kapan mau ikut dwonk main sepeda dimari.. tetapi apa spec sepeda MTB hardtail sederhana sudah bisa memadai?
abahsaidan wrote on Feb 9
"yg penting sepedaannya, bukan sepedanya" (ranggapanji)
amaru wrote on Feb 10
kapan-kapan mau ikut dwonk main sepeda dimari.. tetapi apa spec sepeda MTB hardtail sederhana sudah bisa memadai?
Saya pake sepeda Hardtail ko. Malah sy belum pernah pake sepeda Softail. hehehe
aleut wrote on Feb 10
Asik ya pake MTB bisa nanjak2 gini, dirumah saya adanya cuma ontel.. ehhee
idetidansuk wrote on Feb 10
penta said
Kalau selinya buat saya nanti saya cobain kang... he he he
boleh kang barter sama dengkul we atuh xixixi
penta wrote on Feb 11, edited on Feb 11
boleh kang barter sama dengkul we atuh xixixi
Kumaha kalau kita tukeran Patrol aja kang, AMP sama FXP, kan jadi rada hampang tuh... heu heu heu

Aduh punten iyeu ka nu kagungan blog, janten ngabalaan kiyeu :D
abahsaidan wrote on Feb 11
teu sawios kang, meh rame hehehe
abahsaidan wrote on Feb 11
aleut said
Asik ya pake MTB bisa nanjak2 gini, dirumah saya adanya cuma ontel.. ehhee
bisa aja sih nanjak pake onthel, nanjak dorong :)
Add a Comment